meniti tiap jenjang kehidupan, rangkaian peristiwa yang berhamburan dalam kenangan menghanyutkan seraya meletupkan berbagai rasa membuncah, entah meliput sangat,
ingin beranjak dalam saat sisa waktu, terseok oleh sosok yang masih berdiri membekukan masa
jika smua memang masih miliku, kuingin makin bersimpuh menghamba
meriapkan segala sesak, meski tertatih oleh cabikan yang meruap lekat,
biar kutahan semua sedu sedanku, mencoba semakin tahu diri, bahwa memang semua
berawal dan berakhir di aku sendiri, tak akan kuhayalkan bahwa akan kembali,
meski harap bisa menghapuskannya tuntas, karna semua tak mungkin jua
mencoba mengurai setiap, agar tak lagi jengah dalam ratap
Minggu, 30 Juli 2017
Sabtu, 29 Juli 2017
yang membekas ada
ini ada
masih ada
walau setitik jua
namun selalu ada
yang membekas ada,
yang menoreh begitu dalam,
yang melingkupku
meski ini entah, namun tak bisa juga kupungkiri bahwa ini tak pernah lekang
hanya yang kutak jua mengerti benarkah ini ?
yang sering buatku jenggah, yang mengusikku kala
tak hendak aku mencari celah, atau mencaci getah
ini hanya aku dan aku jua, tak boleh lain salah... meski,
aku terpurut karena salahku yang tergoyah
aku tersuruk karena aku yang tak penuh
aku yang jenuh karena aku yang mudah letih
semua yang terkait memang begitu adanya,
salahku bila ku tak tegar
salahku bila ku terambing
salahku bila ku terseok
salahku bila ku terjerembab makin
maafkan bila mengusikmu
maafkan bila melukaimu
sungguhpun aku lebih terusik, lebih terluka, dan lebih nelangsa
hanya pada Nya, kulabuh segala keluh, yang Maha Tahu atas segala riapku
moga ampunan Nya meraupku
masih ada
walau setitik jua
namun selalu ada
yang membekas ada,
yang menoreh begitu dalam,
yang melingkupku
meski ini entah, namun tak bisa juga kupungkiri bahwa ini tak pernah lekang
hanya yang kutak jua mengerti benarkah ini ?
yang sering buatku jenggah, yang mengusikku kala
tak hendak aku mencari celah, atau mencaci getah
ini hanya aku dan aku jua, tak boleh lain salah... meski,
aku terpurut karena salahku yang tergoyah
aku tersuruk karena aku yang tak penuh
aku yang jenuh karena aku yang mudah letih
semua yang terkait memang begitu adanya,
salahku bila ku tak tegar
salahku bila ku terambing
salahku bila ku terseok
salahku bila ku terjerembab makin
maafkan bila mengusikmu
maafkan bila melukaimu
sungguhpun aku lebih terusik, lebih terluka, dan lebih nelangsa
hanya pada Nya, kulabuh segala keluh, yang Maha Tahu atas segala riapku
moga ampunan Nya meraupku
Begitu Cinta
Lihatlah cinta,
cinta Nya yang meruah dan indah,
cinta Nya yang penuh kasih
dan lihatlah diri,
semua tak terhitung dan tak tereja
dengan pemberian yang begitu melimpah,
selayaknya menjadikan kita makin dekat pada Sang Pemberi,
selayaknya kita gunakan sesuai yang Dia mau,
karena begitulah berterimakasih,
jika kita justru makin jauh atau bahkan makin membangkang- Nya,
pantaskah kita , bahkan kita masih meminta lagi dan lagi, daaan
masih merasa kurang juga atau merasa tidak terima dengan pemberian-Nya
Kepemurahan Dia, keMaha Tahunya Dia, ke Maha Ampunnya Dia,
Dia tak butuh kita berterimakasih,
namun pantaskah kita tidak berterimakasih
Dia tak terpengaruh kita baik atau buruk,
namun pantaskah kita tidak berterimakasih
Dia begitu Kasih dengan memberi yang kita minta atau yang kita butuh dan yang terbaik tuk kita
Dia begitu sayang dengan melimpahi kita dengan ampunan dan senang jika kita meminta
Dia begitu cinta.... dapatkah kita menggapainya ?
cinta Nya yang meruah dan indah,
cinta Nya yang penuh kasih
dan lihatlah diri,
semua tak terhitung dan tak tereja
dengan pemberian yang begitu melimpah,
selayaknya menjadikan kita makin dekat pada Sang Pemberi,
selayaknya kita gunakan sesuai yang Dia mau,
karena begitulah berterimakasih,
jika kita justru makin jauh atau bahkan makin membangkang- Nya,
pantaskah kita , bahkan kita masih meminta lagi dan lagi, daaan
masih merasa kurang juga atau merasa tidak terima dengan pemberian-Nya
Kepemurahan Dia, keMaha Tahunya Dia, ke Maha Ampunnya Dia,
Dia tak butuh kita berterimakasih,
namun pantaskah kita tidak berterimakasih
Dia tak terpengaruh kita baik atau buruk,
namun pantaskah kita tidak berterimakasih
Dia begitu Kasih dengan memberi yang kita minta atau yang kita butuh dan yang terbaik tuk kita
Dia begitu sayang dengan melimpahi kita dengan ampunan dan senang jika kita meminta
Dia begitu cinta.... dapatkah kita menggapainya ?
telaga
menoleh kemasa itu,
sedikit namun sangat sakit berhembus hawa panas menyesakkan,
kenaifan dan kebodohan terdulang
merancau dingin dan pahit,
aku meringkuk, tergugu pilu,
berbagai yang entah meletup-letup
aku merindu telaga Mu
rindu yang biru dan haru
meski aku terseok gamang,
aku sungguh tak ingin ragu menggangguku
biasan apapun boleh lalu lalang menghantui
biar terus kugapai telaga Mu
meski riapku lemah
dan tatihku terjeda-jeda
izinkan kasih Mu selalu melingkupiku
penuh dan rapat
sedikit namun sangat sakit berhembus hawa panas menyesakkan,
kenaifan dan kebodohan terdulang
merancau dingin dan pahit,
aku meringkuk, tergugu pilu,
berbagai yang entah meletup-letup
aku merindu telaga Mu
rindu yang biru dan haru
meski aku terseok gamang,
aku sungguh tak ingin ragu menggangguku
biasan apapun boleh lalu lalang menghantui
biar terus kugapai telaga Mu
meski riapku lemah
dan tatihku terjeda-jeda
izinkan kasih Mu selalu melingkupiku
penuh dan rapat
Jumat, 03 Maret 2017
meninggalkan jejak
pasti kita semua kan beranjak
meninggalkan jejak....
yang maya atau-pun yang tampak
berharap akan merentas jejak yang baik...
untuk itu...
laku apa yang kita buat ...?
laku baik apa yang kan kita cetak,
dan hal buruk apalagi yang telah dan kan ku toreh
bisakah ku hapus atau kututupi
hingga ku sanggup mengetuk pintu-Nya
.......
dan aku,
tanpa perlindungan-Nya aku pasti terperosok makin dalam
tanpa penutup-Nya aibku mencorengku hitam pekat
apalah aku
namun jua masih sering sok...
takabur dan kufur nikmat-Mu
lalai dan abai akan wajibku
sementara ini hanya mencoba menorehkan pena,
berharap menjadi jejak yang moga bisa berbilang
menggugurkan riap-riapku
Jumat, 20 Mei 2016
digugu dan ditiru ?
setiap kita...sejatinya adalah guru, yang sering kita dengar guru : digugu dan ditiru, ditatati dan diikuti,
saat kita yang memilih profesi mulia ini , maka ada banyak mata yang mengikuti kita, yang akan mengimani apa kata dan tanduk kita, sudahkah kita menyadarinya setiap saat ?
meski zaman beredar, dan guru tak lagi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa....sejatinya pepatah guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru tetap berlaku, guru adalah pendidik, betapa anak-anak masih jua lebih dengarkan nasehat guru dari pada ortunya, daaan....saat q berkata dan berlaku ....didepan anak didik/dilihat mereka meski saat diluar kelas...apa yang q harap akan digugu dan ditiru dari q ?
saat kita yang memilih profesi mulia ini , maka ada banyak mata yang mengikuti kita, yang akan mengimani apa kata dan tanduk kita, sudahkah kita menyadarinya setiap saat ?
meski zaman beredar, dan guru tak lagi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa....sejatinya pepatah guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru tetap berlaku, guru adalah pendidik, betapa anak-anak masih jua lebih dengarkan nasehat guru dari pada ortunya, daaan....saat q berkata dan berlaku ....didepan anak didik/dilihat mereka meski saat diluar kelas...apa yang q harap akan digugu dan ditiru dari q ?
Jumat, 27 November 2015
meneladani banyak hal
kita tahu,jauh lebih banyak hal yang tidak terjangkau dengan indra kita, bahkan oleh akal kita,
namun masih kadang kala kita bisa bersombong, berlagak sok tahu, juga masih selalu merasa benar.....
disisi lain, semakin kita membuka mata hendaknya kita juga membuka hati, agar lebih banyak hal yang kan mewarnai hidup kita, layaknya menjadikan kita lebih baik dan mendewasakan kita,
upaya menjadi lebih arif, kadang kala tidak sejalan dengan bertambahnya usia kta, semakin tua kita layaknya kitapun makin banyak tahu, makin memahami dan hendaknya makin merunduk makin bersujud,
memcoba melihat banyak sisi, mencoba meraih banyak hal lain, ternyata kita akan temui begitu banyak yang ternyata luput dari pengamatan kita sebelumnya, makin banyak hal yang ternyata baru terlihat,
kesadaran akan diri sendiri yang ternyata belum berarti apa-apa, belum berbuat apapun, dan bayang kesalahan masa lalu dan berikut lingkupan kebodohan dan kenaifan yang sangat, sungguh membuat jengah dan malu diri, pada siapa kini harus mengadu selain hanya pada Nya semata, Dia yang telah berjanji akan selalu menerima, mengampuni kita, memberi dan mrnunjukkan kita jalan menujuNya, berharap masih pantas unutuk mendekatinya, berlindung dalam dekap rengkuh kasih Nya yang melimpah,
Duhai yang Maha.... aku setitik hamba Mu yang bergelimang nista dosa, aku hanya yakin akan Cinta MU
Rabu, 25 November 2015
cermin
ketika kita bercermin,
yang terlihat adalah bayang diri kita,
terlepas apakah cermin yang kita pakai cembung atau cekung...
apapun.... yang nampak adalah diri kita
saat itu kita sedang cantikah? atau saat itu kita sedang cemberutkah..
lalu apa yang kita lakukan ? kita bercermin mungkin hanya sekedar lewat, sekedar ngecek, atau justru karena kita kurang percaya diri hingga sebentar-sebentar bercermin hanya untuk memastikan diri ?
namun kita bercermin secara umum pasti untuk melihat gambaran kita, membantu kita melihat sisilain diri kita yang tak terjangkau oleh indra mata kita, lalu mengoreksi diri apa yang kurang hingga yakin kita sudah beres.
ada yang mungkin sering kita lewati bahwa sekitar kita adalah cermin,
ya....ada.cermin kita dimana-mana, yang kita tempati atau yang kita lewati
baik cermin hidup ataupun cermin mati...cermin yang bisu atau cermin yang berceloteh
cermin itu bisa...anak-anak kita, suami-istri kita, teman-teman kita, saudara, tetangga, anak didik, juga masyarkat sekitar,...rerumput, pohon, bunga...dan batuan juga tembok bahkan....entahlah apalagi
lalu bagaimana bisa jadi cermin...?
lihatlah pantulan yang kita terima dari semuanya,
jika kita tersenyum...
jika kita marah,...
jika kita berbuat baik...
jika kita mencintainya...
jika kita merawatnya....
jika kita merusak dan berbuat onar...
jika kita.....
maka...
jadi, pantulan seperti apa yang kita inginkan ?
yang terlihat adalah bayang diri kita,
terlepas apakah cermin yang kita pakai cembung atau cekung...
apapun.... yang nampak adalah diri kita
saat itu kita sedang cantikah? atau saat itu kita sedang cemberutkah..
lalu apa yang kita lakukan ? kita bercermin mungkin hanya sekedar lewat, sekedar ngecek, atau justru karena kita kurang percaya diri hingga sebentar-sebentar bercermin hanya untuk memastikan diri ?
namun kita bercermin secara umum pasti untuk melihat gambaran kita, membantu kita melihat sisilain diri kita yang tak terjangkau oleh indra mata kita, lalu mengoreksi diri apa yang kurang hingga yakin kita sudah beres.
ada yang mungkin sering kita lewati bahwa sekitar kita adalah cermin,
ya....ada.cermin kita dimana-mana, yang kita tempati atau yang kita lewati
baik cermin hidup ataupun cermin mati...cermin yang bisu atau cermin yang berceloteh
cermin itu bisa...anak-anak kita, suami-istri kita, teman-teman kita, saudara, tetangga, anak didik, juga masyarkat sekitar,...rerumput, pohon, bunga...dan batuan juga tembok bahkan....entahlah apalagi
lalu bagaimana bisa jadi cermin...?
lihatlah pantulan yang kita terima dari semuanya,
jika kita tersenyum...
jika kita marah,...
jika kita berbuat baik...
jika kita mencintainya...
jika kita merawatnya....
jika kita merusak dan berbuat onar...
jika kita.....
maka...
jadi, pantulan seperti apa yang kita inginkan ?
guru-guruku
kagem semua guru-guruku, ....
para kyai, bapak guru, ibu guru, ustadz, teman, sahabat, adik, kakak, ipar, ananda, anak-anakku disekolah, kerabat, saudara, tetangga, dan smua pribadi yang kukenal langsung ataupun tak langsung, baik yang masih ataupun yang telah...
yang mengajariku dari sehuruf hingga yang mengajari tentang hidup serta hikmah,
betapa hanya salam ta'dzim dan do'a yang mampu kuurai,
smoga jariyah ilmu panjenengan semua mengalir... bening jernih menyegarkan,
dalam balutan kasih Yang Maha Cinta, Amiin
**
siapapun yang mengajari walau sehuruf beliau adalah GURU
*** tanpa sehuruf kita tak tahu apa-apa, tanpa hikmah kita tak jua hidup
betapapun beliau terlihat dalam kasat mata kita yang terbatas
Guru adalah mulia dan dimuliakan ....
para kyai, bapak guru, ibu guru, ustadz, teman, sahabat, adik, kakak, ipar, ananda, anak-anakku disekolah, kerabat, saudara, tetangga, dan smua pribadi yang kukenal langsung ataupun tak langsung, baik yang masih ataupun yang telah...
yang mengajariku dari sehuruf hingga yang mengajari tentang hidup serta hikmah,
betapa hanya salam ta'dzim dan do'a yang mampu kuurai,
smoga jariyah ilmu panjenengan semua mengalir... bening jernih menyegarkan,
dalam balutan kasih Yang Maha Cinta, Amiin
**
siapapun yang mengajari walau sehuruf beliau adalah GURU
*** tanpa sehuruf kita tak tahu apa-apa, tanpa hikmah kita tak jua hidup
betapapun beliau terlihat dalam kasat mata kita yang terbatas
Guru adalah mulia dan dimuliakan ....
Jumat, 13 November 2015
my....
apapun engkau...
seharusnyalah mengalirkan syukurku,
engkau yang tahu semua sisi gelap dan kotorku
tapi...
engkau menerimaku jua,
menyayangiku selalu,
mendampingiku setiap
terimakasih....A'
yang ku pinta dalam do'aku selalu,
penjagaan Nya atas engkau
dengan kasih dan cinta Nya yang meruah,
Amiin
waktunya pulang
12-3-2014
inspirasi tulisan anak2 di IX B :
HIDUP INI HANYA MENUNGGU TUHAN BERKATA " WAKTUNYA PULANG "
in mine :
seperti anak kecil bermain, kemudian dipanggil ibunya, " ayo Nak...pulang..! ",
jika dia sudah puas bermain maka dengan ringan ia-pun pulang, jika ia belum puas atau justru melakukan kesalahan...dia pasti enggan pulang atau bahkan takut pulang..
jika si anak tahu pasti, dirumah ada hal yang jauh lebih menyenagkan tentu diapun segera pulang, dan kita...?
apa kita ingin tempat kita pulang penuh hal indah dan menyenangkan, tidak lagi terbebani hal yang belum selesai, atau justru ditunggu oleh jerat sanksi seperti buronan, dan akankah kita musti dipaksa pulang dengan sakit dan takut.....?
inspirasi tulisan anak2 di IX B :
HIDUP INI HANYA MENUNGGU TUHAN BERKATA " WAKTUNYA PULANG "
in mine :
seperti anak kecil bermain, kemudian dipanggil ibunya, " ayo Nak...pulang..! ",
jika dia sudah puas bermain maka dengan ringan ia-pun pulang, jika ia belum puas atau justru melakukan kesalahan...dia pasti enggan pulang atau bahkan takut pulang..
jika si anak tahu pasti, dirumah ada hal yang jauh lebih menyenagkan tentu diapun segera pulang, dan kita...?
apa kita ingin tempat kita pulang penuh hal indah dan menyenangkan, tidak lagi terbebani hal yang belum selesai, atau justru ditunggu oleh jerat sanksi seperti buronan, dan akankah kita musti dipaksa pulang dengan sakit dan takut.....?
Langganan:
Postingan (Atom)
Dingin
Dingin yang menggigilkan Apakah dari luar diri, atau justru dari dalam diri Berselimutpun tetap diantara Setidaknya satu sisi sedikit hangat...
