TAPAK
biarkan,
tapak ini mengukir
tiap bersitan
dan bisikan
meski kecil
dan tertatih
diatara sekian
kutatihkan
tapak yang hendak
menjadi jejak
نون
TAPAK
biarkan,
tapak ini mengukir
tiap bersitan
dan bisikan
meski kecil
dan tertatih
diatara sekian
kutatihkan
tapak yang hendak
menjadi jejak
نون
Tidak dipedulikan
Tidak dianggap
Tidak dipentingkan
Memang tidak seberarti itu
Memang tidak sebernilai itu
Memang tidak sepenting itu
hanya seakan ada jika,
digunakan
dimanfaatkan
diperalatkan
dihabiskan
Selanjutnya selalu akan,
Dihempaskan
Diabaikan
Diacuhkan
Dijatuhkan
Diluluh lantakkan
Berlakulah seperti debu
Adanya pun akan dibuat
Terbang dan hilang
Tak berbekas
نون
Melambung hanya akan makin terpuruk
Duri makin menusuk
Hempasan kian keras
Luka pun kian perih
Jika labil terambing
Mudah disulut
Akan tergores menyayat
Pun lantak tak tersisa
Lilitan mencengkeram
Pekat meracuni
Jika kau berasa
Kita berjarak kian
Telisik maya tak guna
Pun entah yang menyeruak
Menipiskan pundi yang tlah terpapar
Gapai nan lemah
Surut langkah hampir tenggelam
Jikalau masih
Jepitan meringih makin pedih
نون
Apa tak layak diperjuangkan?
Apa tak ada ingin membahagiakan?
Capek menunggu
Capek berharap
Capak meminta
Capek memulai
Hanya ingin
Dimengerti
Diperhatikan
Dipedulikan
Dijaga
Diperjuangkan
Salahkah jika,
Ingin diberi tanpa meminta
Ingin dihargai tanpa merajuk
dalam setiap
desau patah dahan
tenggelam dalam deras hujan
tak terdengar
dan terabaikan
pun lirih rintik
tersapu deras badai
tenggelam senyap
tak terbaca
dan terlupakan
نون
Seringan kapas, dibawa angin melayang
Kian jauh pada tuju yang tak bertepi
Liapan tersapa dalam laju, berguliran meletupkan aneka rasa
Menggigil atau membara bersilat dan memantul
Mungkin terbuai hingga terberai
Luluh lantak terserak
Sekejap pun hilang tak berbekas
Adakah pernah
Adakah gores
Namun sungguh tak terpaut
Dan pula tak jua patut
Apalagi terliput
Biar semua bias, dan lalu lepas
Tak ada pijak
Tak ada belitan
Tak jua diukirkan
Karena sungguh tak terpikir
Sejenak dan berlalu
Hadir dan menghilang
Tanpa tersambut
Tanpa disahut
Tiada arti yang musti dimengerti
Tiada peduli yang harus diakui
Bahkan mustahil diperjuangkan
نون
Mengalun dalam perpaduan,
Tak akan berirama jika hanya,
Indah saat beradu,
Syahdu jika bertemu,
Rintik demi derasnya titik,
Gemercik dalam lajunya bisik,
Alunan menelisik
Lirih mengusik
Jiwa diam meluruh
Hati terbawa menepi
Pada Sang Jua
Meletupkan tunduk yang penuh
Melesapkan sujud yang hanya
Demi kesekian yang merajai
Atas segenap yang menguapkan
Hingga memang semestinya kembali
Karena bentang jalan hanya bersimpul diakar
نون
dalam batas
dan harus meretas
jejak yang telah tercetak
hendaknya menjadikan bijak
kemarin adalah cermin
esok menuju.....
Jangan berharap pada manusia, berharap hanya pada penguasa manusia saja
Dan
Semua memang harus sendiri,
Bayar diriku dewe
Bayar butuhku dewe
Penuhi kepuasan ku dewe
Penuhi inginku dewe
Obati lukaku dewe
Sembuhkan sakitku dewe
Hargai diriku dewe
Hiburlah diriku dewe
Bahkan sekedar elusan kepala pun, lakukan dewe
Dari ada aku tidak diterima sebagai aku
Aku tidak berarti bagi siapapun
Tak ada yang bangga padaku
Tak ada yang mengerti aku
Meski aku telah berusaha
Bahkan meski aku telah melampaui batasan
Aku selalu sendiri
Ditengah hiruk pikuk pun
Semua mendekat dengan tendensi
Semua hanya buatku alibi
Entahlah....
Inginku
Rasaku
Harapku
Mauku
Butuhku
Perluku
Bahagia
Dimana letak kata itu,
Apa dia bersembunyi dalam luka,
Atau justru melambung di nirwana,
Berapa lelah yang harus tergores menggapainya
Dan betapa riuh gelegak untuk menjangkaunya,
Sedangkan riap menghalau tetes demi tetes airmata memerah
Pun belenggu menghempas titik titik jejak mengabur
Aku bagai linglung dalam kancahmu
Dan kau selalu hanya terpaku
Meski ku tertatih,
Kau tak beranjak
Meski ku tercabik,
Kau tak berderak
Sunyi ini melingkupi
Sepi ini menggigilkan
Senyap ini melesapkan
Sendu ini merapuhkan
Dawai yg terulur, memang harus kusambut
Meski gerigi memerihkan sayatan yang menganga
Duhai pemilik rasa sebenar
Diri ini penuh onak
Izinkan ku letupkan semesta resah
Dan ku raupkan segenap tuah
Hingga harum Pengasih
Menuaiku dalam sesujud
نون
gerakku hanya sebatas
ucapku hanya seulas
hatiku hanya sekedar
namun
merasa cukupkah aku
merasa benarkah aku
hingga
aku bergeming
merajakan diri
aku berpaku
menasbihkan diri
aku berlaku
menguarkan diri
dan betapa nisbi
akan riap yang jenggah
akan silap yang ruah
akan lena yang memekak
akan bias yang terkuak
sebenar jati
pojok hati terusik
bongkah rasa menelisik
sampai kapan begini
sampai mana seperti ini
bilakah beranjak
menerap lebih
menggegas terus
meresap dalam
mensujud hingga
Dingin yang menggigilkan Apakah dari luar diri, atau justru dari dalam diri Berselimutpun tetap diantara Setidaknya satu sisi sedikit hangat...