Kamis, 25 April 2019

intrik


saat ada hal yang menajamkan indra kita
membawa kita lebih waspada
seakan beberapa hal mengusik
bahkan membahayakan mengintai
sejenaklah memantulkan diri sendiri
sebelum mereka reka yang hanya kita liat luarnya
dan serba entah
namun selalu ada yang merasa berhak
mengaku serba tahu
lalu membuat label paten
bias oleh kemilau yang hanya


jika langkahmu kadang menderap gegap
atau detak nadimu merenggut makin resah
dan gemuruh merejamkan gejolakmu
ada saat yang lirih justru menjadikanmu makin limbung
yang tipis menggores mu perih
selaksa tak semestinya meraup
sang bijak tak meremehkan yang hanya

setiap hal tak begitu saja melaju
yang padu juga selalu mungkin menggantungkan ragu
tak mudah menajamkan
setitik atau yang tersilau maya
resapannya harusnya tetap menegarkan
pun menyadarkan
bahwa apapun tak sekedar hanya








hanya


berbagai hal yang mengusiku, 
meniggalkan bebagai hal juga
kejanggalanpun masih menyeruak makin dalam
dan diam merajaiku sementara
namun bagimu masih hanya


aku masih disini
selalu terpaku pada hal itu lagi
tanpa solusi berarti
karna toh nampaknya memang tak bermakna
dan masih juga bagimu hanya

meski jua semua
dan merekatkan hal berdampingan erat-erat
mengelak darinya seakan lugas saja
lalu pada mula dan akhirnya
kembali jua hanya


siapapun yang bertahta disemestamu
tak lekang mengguriskan rekaan
yang membalutkan gemercik indah meletup
ruah duniamu
tapi .... hanya

MENCINTAI HURUF – MU


Izinkan aku mencintai huruf Mu
Yang terangkai dan atau terangkum
Yang meski ku eja dan atau yang meski ku rasa
Yang terecap indra dan atau yang terserap jiwa

Izinkan aku mencintai huruf Mu
Yang menjabarkan kalam penuh cinta Mu
Yang menggaungkan firman penuh kasih Mu
Yang meluaskan semesta penuh kuasa MU

Izinkan aku mencintai huruf Mu
Agar aku makin mendekat pada Mu
Agar aku makin mentaat pada Mu
Agar aku makin hanya pada Mu

harusnya



Harusnya aku hanya percaya pada Mu
Harusnya aku penuh percaya pada Mu
Harusnya aku selalu percaya pada Mu

Namun ...
Aku masih jua riap
Aku masih saja sering gamang
Aku masih pula liat resah

Harusnya aku tak terlalu bodoh
Dengan mempercayai yang jauh lebih tak kuasa dari Mu

Harusnya aku tak mudah labil
Dengan menyandarkan yang jauh lebih tak sayang dari Mu

Harusnya aku tak begitu rapuh
Dengan menggantungkan yang jauh lebih lemah dari Mu

23042019

LIPATAN HATI




Sebersit dan selintas yang ada
Meletup lirih demi ke demi
Pada yang hendak selalu
Berbisik pada lipatan hati

Hening pada indra sementara
Melabuhkan riap sejenak
Pada yang ragam meruah
Membisu pada lipatan hati

Dawai mengulas rancak gelora
Menggema diam tetes ke tetes
Pada yang biasa luruh begitu
Membeku pada lipatan hati

Redam rasa dan ruam sembilu
Membayang disetiap rejam rona
Pada yang tertoreh membiru
Mengerat pada lipatan hati

APA YANG KAU AJARKAN



Pada setiap hal yang tersaji
Pada setiap hal yang terjadi
Pada saat apa saja yang terasa
Pada saat apa saja yang teraba
Pada gambaran yang terpampang jelas
Pada gambaran yang samar melintas
Pada bisikan atas yang irih menembus
Pada  bisikan yang gelegar menghujam
Pada amaran yang mestinya ku laku
Pada amaran yang mestinya ku jauh

Apa yang hendak Kau ajarkan pada kami ya Robb.... ?

# catatan ketika mencabuti ruput liar dihalamn rumah, terbersit bahwa “ ketika ihrom; mencabut rumput itu terlarang, “ bahwa setiap hal yang wajib atau haram pasti berhikmah,: mungkin Kau mengajarkan agar kami menghargai kehidupan, bahkan agar kami tidak takabur dengan menganggap remeh makhluq lain, agar kami merendah bahwa semua dan segala terjadi dibawah kuasa Mu semata jua .
maafkan lemahku yg lirih mengingat Mu (dzikirkah ini ?bukankah Kau menghendaki kami mengingatmu baik kala duduk dan berdiri, dan dalam sepi atau ramainya hidup kami ?)

UJIAN



Bukankah kau ingin sampai puncak tertinggi ?
Maka kaupun harus mendakinya

Bukankah kau ingin mendapatkan yang berlimpah
Maka kaupun harus mengaisnya

Bukankah kau ingin menjadi berkilau cemerlang ?
Maka kaupun harus menempanya

Jika kau mendaki dengan lemah
Atau kau mendaki dengan penuh juang
Bahkan pasti ada lelah merejam
Bahkan pasti banyak aral melintang
Bahkan pasti ada jurang mengintai
Lalu nanti akan ada bangga meraja

Jika kau mengais dengan asal
Atau kau mengais dengan penuh juang
Bahkan pasti ada dera mmenghujam
Bahkan pasti ada badai menerjang
Bahkan pasti ada duri melukai
Lalu nanti akan ada bangga membahana

Jika kau menempa dengan lirih
Atau kau menempa dengan penuh juang
Bahkan pasti ada duka melemahkan
Bahkan pasti ada goncang mengambingkan
Bahkan pasti ada lena menjerumuskan
Lalu nanti akan ada bangga meruah

# hasil tak menghianati usaha
# tak ada kepuasan tanpa kerja keras
#seberat apa usahamu seberat itu pula pahalamu

ADA KALA



Adakala tinta penaku mengalir
Dan dilain tersendat menumpul

Adakala rona memancar berkilau
Dan dilain tersaput memburam

Adakala derap menghentak terpacu
Dan dilain tatih terantuk membeku

Adakala binar cemerlang ruah
Dan dilain sendu tercekat kelabu

Adakala nada menggema membahana
Dan dilain dera terejam nan lara

Begitulah hidup
Berputar bertauan
Meninggikan dan merendahkan
Menempa kitas senantiasa
Tetap atau lena- kah?
Semestinya pada apapun
Tak lekang berpijak
Tak hendak berpaling
Senantiasa jua
( menuju pada Nya saja, semula dan semua )

Rabu, 20 Maret 2019

BIAS


7  April 2018

Yang menimpaku ini serasa berat dipundakku
Bahkan sebenarnyapun aku tidak sendiri
Yang melingkupku ini menyesakan hatiku
Bahkan sebenarnya aku tidak hampa
Yang merenggutku amat erat ini
Bahkan sebenarnya hanya setitik saja
Bahkan ini bukti cinta Mu
Bahkan ini bukti sayang Mu
Melingkupku penuh
Merengkuhku erat
Aku malu pada Mu,
Berkali ku mengeluh pada Mu
Berulang aku berkeluh pada Mu
Atas yang remeh temeh ini
Diantara nikmat Mu yang tak ter eja
Diantara cinta Mu ayng membahana
Diantara kasih Mu yang melimpah
Tapi biarkan aku tetap bersimpuh padaMu
Merentas segala resahku
Merenda srgala asaku
Melabuhkan segenap rasaku

Gemuruh


27/9/2017

Gemuruh didada mnyesakkanku
Amarah ini membekaskan dendam
Yang sebenarnya justru menyakitiku
Apapun tak layak aku mempertahankannya
Menggerogotiku sendi sukmaku terluka
Meki hatiku tercabik olehnya
Meski riap itu masih mengguris ngilu
Rasa ‘aku’ ku terbentur pada ‘harus’ ku
Aku menggigil dalam nyeri yang sangat
Terpaku pada sosokmu yang harusnya
Melindungiku waktu itu
Menjagaku waktu itu
Menumbuhkanku waktu itu
Kesadaran atas diri yang jua tak layak
Aku tergugu sendiri
Biar ku tebas semua
Biar ku tambatkan semua pada Nya
Aku ingin seringan itu hidup sebenar
Aku ingin selega itu menuju Mu

pada Ibu


06/11/2018

Gamang menyeruak dalam pekatnya
Aku ingin tak ambil disini
Meraihmu menembus selaksa
Meski kerikil menggullirkan jamah kakiku
Biar lirihku meletup sebentar sebentar
Beradu dengan kicau yang sekejap melengking
Atau terpaan cahaya yang biasnya menyilaukan
Dingin juga sempat menggigilkanku
Berganti panas yang juga sempet menderaku gerah



Berulang tak terhitung ku eja namamu
Melambungkannya sambil berharap menembus langit Nya
Setiap saat bayangmu mengelus sukmaku
Aku masih sering tergugu mengingatmu
Dan hanya bisa membungkusnya dengan untaian do’a
Ibu....... masih selalu dihatiku hangat cintamu
Yang tak terbalas apapun, senantiasa menghangatkan jiwa
Meski ulur tangan kami mengecup restumu
Yang mengukir tanpa henti pada kami semua

Dingin

Dingin yang menggigilkan Apakah dari luar diri, atau justru dari dalam diri Berselimutpun tetap diantara Setidaknya satu sisi sedikit hangat...